Selama berabad-abad, penduduk setempat mengaku pernah melihat sosok mirip kera yang aneh, dikenal dengan nama orang pendek, berkeliaran di hutan terpencil Indonesia. Sebagian orang percaya makhluk ini ada kaitannya dengan spesies manusia purba yang disebut Homo floresiensis.
Legenda Indonesia menyebutkan adanya makhluk gaib berukuran kecil, mirip “hobbit,” yang diyakini tinggal jauh di dalam hutan pegunungan Sumatra. Sosok ini dikenal sebagai orang pendek, yang secara harfiah berarti “orang pendek.” Makhluk berbulu tersebut dipercaya berjalan dengan dua kaki dan tingginya hanya sekitar 75 hingga 150 sentimeter.
Orang-orang yang mengaku pernah melihat orang pendek mengatakan makhluk itu memiliki bahu lebar dan lengan kuat, cukup bertenaga untuk mencabut pohon kecil serta mematahkan sulur rotan. Walau kisah tentang sosok ini mirip dengan laporan mengenai Bigfoot, sebagian percaya bahwa sebenarnya ia berhubungan dengan spesies manusia purba yang sudah punah.
Namun, meski sudah berabad-abad muncul dalam legenda dan banyak kesaksian mata, hingga kini belum ada seorang pun yang berhasil mendapatkan foto yang benar-benar dapat diverifikasi tentang orang pendek — atau bukti pasti yang menegaskan keberadaannya.
Kesaksian tentang orang pendek berdasarkan cerita orang-orang.
Meski bukti nyata tentang keberadaan orang pendek masih sangat minim, selama bertahun-tahun telah muncul banyak sekali laporan penampakan. Dari berbagai kesaksian itu, terbentuk gambaran yang cukup konsisten mengenai sosok makhluk tersebut.
Menurut laporan The Guardian, seorang saksi mata lokal menggambarkan orang pendek yang dilihatnya sebagai “sekitar satu meter tingginya, tetapi dengan bahu dan dada yang besar.” Rambutnya berwarna cokelat pucat, berjalan tegak dengan dua kaki, dan memiliki “wajah mirip kera.”
Penduduk setempat mengatakan makhluk ini terutama memakan buah, sayuran, umbi-umbian, dan sesekali serangga. Walaupun digambarkan sangat kuat, ia tidak dikenal bersikap agresif. Sebaliknya, ia akan lari menjauh setiap kali melihat manusia.
Penampakan orang pendek sudah tercatat sejak ratusan tahun lalu. Pada awal abad ke-20, sejumlah pemukim Belanda mengaku melihat makhluk aneh menyerupai manusia kecil berbulu di Sumatra. Pada tahun 1923, seorang kolonialis Belanda bernama J. van Herwaarden menggambarkannya memiliki “rambut sangat gelap” yang “menjuntai hingga sedikit di bawah tulang belikat, bahkan hampir mencapai pinggang.”
Menurut catatan Ancient Origins, van Herwaarden menulis: “Seandainya ia berdiri, lengannya akan mencapai sedikit di atas lutut.” Berbeda dengan kesaksian lain, ia mengklaim bahwa “tidak ada yang menjijikkan atau buruk pada wajahnya, dan sama sekali tidak mirip kera.”
Muncul Gambaran yang Lebih Jelas
Pada tahun 1990-an, para kriptozoolog Debbie Martyr dan Jeremy Holden memulai upaya selama 15 tahun untuk menemukan orang pendek di Sumatra. Meskipun mereka tidak pernah berhasil mengambil foto makhluk misterius itu, keduanya mengklaim bahwa mereka memang pernah melihatnya secara langsung.
Martyr menulis, menurut The Guardian:
“Saat saya melihatnya, saya melihat seekor hewan yang tidak mirip dengan apa pun di buku yang pernah saya baca, film yang pernah saya tonton, atau kebun binatang yang pernah saya kunjungi. Ia memang berjalan agak seperti manusia, dan itu mengejutkan.”
Ia menambahkan,
“Makhluk itu tidak terlihat seperti orangutan. Proporsinya sangat berbeda. Tubuhnya seperti petinju, dengan kekuatan luar biasa di bagian atas tubuh… Warnanya indah sekali, bergerak dengan dua kaki dan berusaha menghindari terlihat.”
Setelah berbicara dengan ratusan penduduk Sumatra, Martyr dan Holden menyusun deskripsi yang lebih konsisten tentang orang pendek, sebagaimana dilaporkan oleh Skeptoid:
“Biasanya tingginya tidak lebih dari 85 atau 90 sentimeter — meski kadang bisa mencapai 120 sentimeter. Tubuhnya tertutup bulu berwarna abu-abu gelap atau hitam dengan bercak-bercak abu-abu… Makhluk ini begitu kuat, hingga penduduk berbisik bahwa ia mampu mencabut pohon kecil dan bahkan mematahkan sulur rotan. Kakinya, dibandingkan dengan tubuhnya, tampak pendek dan ramping, telapak kakinya kecil dan rapi, biasanya mengarah keluar hingga sudut 45 derajat.Kepalanya miring ke belakang dengan puncak yang jelas — mirip gorila — dan tampak ada tonjolan tulang di atas mata. Namun mulutnya kecil dan rapi, matanya berjauhan, dan hidungnya jelas menyerupai manusia. Ketika ketakutan, makhluk ini memperlihatkan giginya — menampakkan gigi seri yang lebar dan taring panjang yang menonjol.”
Pencarian untuk Menemukan Orang Pendek
Ketika kriptozoolog Richard Freeman mengetahui legenda tentang orang pendek di Sumatra, ia memutuskan untuk melacaknya. Pada tahun 2011, ia membentuk sebuah tim dan melakukan perjalanan ke pulau pegunungan di Indonesia tersebut.
Sebelumnya, penduduk setempat melaporkan melihat orang pendek memakan larva dari batang kayu yang membusuk. Jadi ketika tim menemukan jejak aneh di samping salah satu batang kayu semacam itu saat melakukan penjelajahan, mereka percaya telah menemukan sesuatu. Mereka kemudian membuat cetakan dari jejak tersebut menggunakan gips gigi yang cepat mengeras.
Cetakan itu berasal dari jejak yang diduga dibuat oleh orang pendek.
Freeman menulis tentang jejak itu:
“Telapaknya bulat, ibu jarinya pendek dan hampir berbentuk segitiga, sementara jari-jarinya tebal dan menyerupai sosis. Strukturnya sangat berbeda dengan orangutan Sumatra yang memiliki jari panjang dan tipis serta ibu jari yang nyaris vestigial. Jejak itu lebih mirip dengan cetakan tangan gorila kecil, tetapi dengan telapak yang agak lebih bulat.”
Kemudian, seorang ahli biologi di Cambridge memeriksa cetakan tersebut dan menemukan bahwa bentuknya “tidak sesuai dengan spesies primata mana pun yang sudah dikenal.”
Tim juga menemukan beberapa helai rambut di area tersebut. Menurut Freeman, analisis DNA yang dilakukan oleh pakar rambut mamalia Hans Brunner menunjukkan bahwa rambut itu berasal dari “spesies primata yang sebelumnya belum pernah didokumentasikan.”
Namun tampaknya tidak ada studi ilmiah komprehensif atau tinjauan sejawat yang pernah diterbitkan untuk memverifikasi temuan tersebut. Bahkan, dalam sebuah penelitian tahun 2014, tim ilmuwan menyimpulkan bahwa rambut yang sebelumnya dikaitkan dengan orang pendek sebenarnya berasal dari seekor tapir.
Menurut Freeman, makhluk ini kemungkinan besar adalah kera bipedal yang belum pernah ditemukan sebelumnya dan masih berkerabat dengan orangutan. Namun, sejumlah peneliti lain berpendapat bahwa karena Sumatra juga merupakan habitat orangutan, orang-orang yang mengaku melihat orang pendek mungkin sebenarnya hanya keliru mengira orangutan sebagai sesuatu yang lebih aneh.
Antara tahun 2005 hingga 2009, National Geographic juga mendanai sebuah proyek untuk mendapatkan bukti fotografis tentang orang pendek, namun upaya tersebut tidak berhasil menemukannya. Meski begitu, Alex Schlegel, yang terlibat dalam proyek tersebut, mengatakan bahwa kegagalan itu bukan berarti makhluk tersebut tidak ada.
Schlegel berkata:
“Saya akan mengatakan bahwa akan terasa sama anehnya, atau bahkan lebih aneh, jika makhluk ini ternyata tidak ada dibandingkan jika memang ada. Betapapun sulitnya untuk percaya bahwa sesuatu seperti ini masih hidup dan belum pernah didokumentasikan oleh sains Barat di hutan hujan Sumatra, pengalaman saya membuat saya merasa akan sama atau bahkan lebih terkejut jika ternyata semua ini hanyalah cerita belaka.”
Sebuah Spesies Manusia Awal?
Pada tahun 2003, para ilmuwan menemukan spesies manusia yang sebelumnya tidak dikenal di Pulau Flores, Indonesia, hanya beberapa pulau dari Sumatra. Spesies ini diberi nama Homo floresiensis, dan sering dibandingkan dengan “hobbit” karena ukuran tubuhnya yang kecil.
Sebuah tengkorak Homo floresiensis. Beberapa orang percaya bahwa orang pendek berhubungan dengan spesies manusia awal yang berpostur kecil dan mirip “hobbit” ini.
Berdasarkan bukti fosil, Homo floresiensis memiliki tinggi sekitar 91–122 cm, dengan bahu yang menonjol dan kaki yang pendek — ciri-ciri yang sangat mirip dengan deskripsi tentang orang pendek.
Homo floresiensis diketahui hidup hingga sekitar 50.000 tahun yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sempat hidup berdampingan dengan Homo sapiens. Namun, selama bertahun-tahun, puluhan penduduk Flores mengaku pernah melihat makhluk berpostur kecil mirip hobbit di pulau tersebut. Kesaksian ini membuat sebagian peneliti berspekulasi bahwa spesies itu mungkin masih ada, atau baru punah sekitar 100 tahun terakhir. Meski begitu, teori-teori semacam ini sangat kontroversial.
Meski begitu, karena ukuran fosil Homo floresiensis dan kedekatan geografisnya dengan Sumatra, sebagian orang berteori bahwa orang pendek yang dilaporkan terlihat di Sumatra mungkin sebenarnya berhubungan dengan Homo floresiensis.
Misteri Orang Pendek Berlanjut
Pada tahun 2017, seorang YouTuber asal Indonesia merilis sebuah video buram yang memperlihatkan sosok mirip manusia kecil berwajah kera di jalur motor trail, berlari menjauh dari kamera dengan kecepatan yang mengejutkan.
Video tersebut dengan cepat menjadi viral dan akhirnya ditonton lebih dari 17 juta kali. Namun, meskipun ada yang mengklaim bahwa rekaman itu merupakan bukti fotografis pertama tentang orang pendek, keasliannya belum pernah dikonfirmasi atau diverifikasi. Ada kemungkinan bahwa sosok tersebut hanya hasil rekayasa digital sebagai lelucon, atau sekadar seorang manusia yang mengenakan kostum.
Hingga hari ini, belum ada seorang pun yang berhasil menghasilkan bukti fisik atau fotografis yang dapat diverifikasi tentang keberadaan orang pendek. Meski demikian, sebagian orang tetap meyakini bahwa makhluk itu ada — entah sebagai kerabat manusia purba, orangutan yang disalahartikan, atau bahkan suatu makhluk tak dikenal lainnya.
Jonathan Downes, seorang peneliti kriptid, mengatakan dalam wawancara dengan Daily Express:
“Jika saya harus memberi probabilitas tentang keberadaannya – saya akan mengatakan 99 persen. Tidak ada keraguan dalam pikiran saya bahwa hewan ini ada, dan saya pikir kemungkinan besar ia adalah spesies keempat dari orangutan.”
Jika memang ada, bukti anekdot menunjukkan bahwa kriptid yang sulit ditangkap ini tampaknya lebih memilih untuk tidak ditemukan. Untuk saat ini, orang pendek masih akan dikategorikan bersama makhluk mitologis lain seperti Bigfoot dan Yeti.
sumber: allthatsinteresting.com




0 comments:
Posting Komentar