Apa Itu Akiya dan Seberapa Besar Masalahnya di Jepang?

Akiya adalah istilah dalam bahasa Jepang yang merujuk pada rumah kosong atau rumah yang ditinggalkan sepenuhnya oleh pemiliknya. Rumah-rumah ini biasanya masih dalam kondisi yang bisa ditinggali atau direnovasi, namun dibiarkan begitu saja selama bertahun-tahun tanpa perawatan.

Fenomena ini bukan sekadar cerita urban legend—ini masalah nyata dan sangat besar di Jepang. Menurut data resmi dari Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang (tahun 2023), jumlah Akiya di seluruh negeri mencapai sekitar 9 juta unit. Angka ini setara dengan 14% dari total seluruh rumah yang ada di Jepang, baik di daerah pedesaan terpencil maupun di pinggiran kota besar seperti Tokyo dan Osaka.

Untuk membayangkannya, 9 juta rumah kosong itu jumlahnya jauh lebih banyak daripada total penduduk kota metropolitan seperti Jakarta. Ini menjadikan Akiya salah satu masalah properti terbesar di negara maju saat ini.

Gambar di atas menunjukkan contoh rumah Akiya tradisional yang sudah lama ditinggalkan. Rumah bergaya Jepang klasik ini ditumbuhi tanaman merambat lebat dan lumut, dengan jendela rusak serta atap yang mulai lapuk—menggambarkan betapa “terlantar”-nya banyak Akiya di pedesaan Jepang.

Skala masalahnya semakin terlihat ketika kita bandingkan dengan tren demografi Jepang. Populasi terus menurun, keluarga muda pindah ke kota besar, dan banyak rumah warisan keluarga tidak lagi dihuni. Akibatnya, Akiya tidak hanya ada di desa-desa kecil, tapi juga mulai muncul di pinggiran kota metropolitan.

Foto ini memperlihatkan rumah Akiya kayu tua di tengah hutan pinus, dengan struktur yang sudah miring dan atap bocor. Kondisi seperti ini sangat umum di daerah pegunungan dan pedesaan Jepang, di mana akses sulit membuat rumah semakin cepat rusak.

Jadi, Akiya bukan sekadar “rumah tua yang tak terpakai”. Ini adalah fenomena sosial-ekonomi besar yang mencerminkan tantangan depopulasi dan perubahan gaya hidup masyarakat Jepang modern.

Penyebab Utama Munculnya Jutaan Rumah Kosong
Akar masalah Akiya tidak muncul begitu saja—semuanya bermula dari perubahan demografi yang sangat dramatis di Jepang. Negara ini sedang mengalami penurunan populasi yang cepat dan berkelanjutan, sesuatu yang jarang terjadi di negara maju lainnya. Tingkat kelahiran sangat rendah (sekitar 1,2–1,3 anak per wanita), sementara usia harapan hidup tinggi membuat populasi lansia terus bertambah. Akibatnya, jumlah penduduk Jepang sudah mulai menurun sejak tahun 2008 dan terus turun setiap tahun.

Grafik ini menunjukkan tren penurunan populasi total Jepang dari tahun 2016 hingga 2025. Garis kuning yang terus menurun menggambarkan bagaimana jumlah penduduk turun dari sekitar 127 juta menjadi di bawah 125 juta—bukti nyata depopulasi yang menjadi pemicu utama munculnya Akiya.

Ketika orang tua atau kakek-nenek meninggal dunia, anak atau cucu mereka sering kali tidak mau atau tidak mampu mengelola rumah warisan di daerah asal. Banyak generasi muda memilih pindah ke kota besar seperti Tokyo, Osaka, atau Nagoya demi pekerjaan, pendidikan, dan gaya hidup modern. Rumah-rumah di pedesaan atau kota kecil ditinggalkan begitu saja. Data menunjukkan sekitar 59% Akiya berasal dari warisan keluarga yang tidak dilanjutkan.

Grafik perubahan populasi Jepang sejak 1950 ini memperlihatkan bagaimana laju pertumbuhan penduduk yang dulu positif kini berbalik menjadi negatif. Penurunan tajam di era modern menjadi salah satu penyebab utama mengapa jutaan rumah tidak lagi dihuni.

Selain faktor demografi, ada juga alasan ekonomi dan budaya. Biaya perawatan rumah tradisional Jepang (terutama yang terbuat dari kayu) cukup mahal, terutama jika lokasinya jauh dari kota. Banyak pemilik memilih meninggalkan rumah karena tidak ada nilai ekonomi yang menarik untuk mempertahankannya. Di sisi lain, budaya Jepang yang kuat soal “warisan keluarga” membuat sebagian orang enggan menjual atau membongkar rumah leluhur, meskipun sudah tidak ditempati.

Proyeksi masa depan bahkan lebih mengkhawatirkan: jumlah Akiya diperkirakan bisa melonjak hingga 23 juta unit pada tahun 2038, atau lebih dari 30% dari total rumah di Jepang. Ini menunjukkan bahwa tanpa intervensi besar-besaran, fenomena rumah kosong akan semakin parah.

Foto ini menampilkan sebuah rumah Akiya tradisional yang masih terawat di pedesaan, dikelilingi hutan hijau dan sawah. Meski terlihat indah, rumah seperti ini sering ditinggalkan karena generasi muda tidak kembali—contoh nyata bagaimana depopulasi meninggalkan rumah warisan tanpa penghuni.

Secara keseluruhan, kombinasi antara penurunan populasi, urbanisasi masif, biaya hidup, dan faktor budaya telah menciptakan “badai sempurna” yang membuat jutaan rumah di Jepang menjadi kosong dan terlantar.

Dampak Buruk Akiya bagi Masyarakat dan Lingkungan
Jika dibiarkan begitu saja, rumah-rumah Akiya tidak hanya menjadi pemandangan menyedihkan—mereka juga membawa dampak negatif yang serius bagi lingkungan sekitar dan masyarakat. Rumah kosong yang tidak dirawat cepat sekali mengalami kerusakan. Atap bocor, dinding lapuk, dan kayu mulai membusuk karena kelembapan tinggi khas Jepang. Akibatnya, tanaman liar, lumut, dan rumput merambat menutupi seluruh bangunan, membuat rumah tampak “ditelan alam” dalam waktu singkat.

Gambar ini menampilkan rumah Akiya di pegunungan Jepang yang sudah sepenuhnya ditumbuhi tanaman merambat dan lumut tebal. Atap dan dinding hampir tak terlihat lagi karena vegetasi liar—contoh klasik bagaimana alam dengan cepat menguasai bangunan yang ditinggalkan.

Salah satu masalah terbesar adalah rumah kosong menjadi sarang berbagai hama dan hewan liar. Tikus, ular, kecoa, dan serangga lainnya berkembang biak di dalamnya. Bahkan di beberapa kasus, rumah Akiya menjadi tempat tinggal hewan liar besar seperti babi hutan atau monyet yang turun dari pegunungan. Kondisi ini sangat mengganggu tetangga sekitar, terutama di daerah pedesaan yang penduduknya sudah sedikit.

Foto close-up jendela rumah Akiya yang ditutupi tanaman merambat lebat dan daun kering. Jendela pecah dan kusen lapuk terlihat jelas—menggambarkan bagaimana rumah kosong menjadi tempat ideal bagi hama dan serangga berkembang biak.

Selain itu, nilai properti di sekitar Akiya sering turun drastis. Calon pembeli atau penyewa enggan tinggal di dekat rumah yang terlihat rusak dan menyeramkan. Di daerah rawan bencana seperti zona gempa atau tsunami, rumah Akiya yang sudah rapuh bisa roboh kapan saja, menghalangi jalur evakuasi, atau bahkan menjadi bahaya tambahan saat terjadi gempa bumi kuat. Beberapa kasus pernah dilaporkan di mana rumah roboh menimpa properti tetangga atau jalan umum.


Gambar ini memperlihatkan rumah Akiya tradisional yang sudah roboh total setelah ditinggalkan bertahun-tahun. Atap genteng berantakan berserakan di tanah, struktur kayu patah—menyiratkan risiko besar di daerah rawan gempa dan bencana alam di Jepang.

Dampak sosialnya pun tidak kalah serius. Banyak warga merasa tidak nyaman dan khawatir karena rumah kosong bisa dimasuki orang tak bertanggung jawab—menjadi tempat berkumpul anak muda nakal, tempat pembuangan sampah ilegal, hingga lokasi kejahatan kecil. Di beberapa desa, keberadaan banyak Akiya membuat suasana desa terasa sepi dan “mati”, mempercepat migrasi penduduk yang tersisa ke kota besar.

Foto halaman belakang rumah Akiya yang penuh sampah, puing-puing, dan tumpukan barang bekas. Dinding berkarat dan jendela pecah menambah kesan terlantar—contoh nyata bagaimana Akiya bisa menjadi sumber masalah lingkungan dan mengganggu kenyamanan tetangga.

Secara keseluruhan, Akiya yang tidak ditangani bukan hanya masalah estetika atau ekonomi, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan, kesehatan masyarakat, dan keberlangsungan komunitas lokal di Jepang. Semakin lama dibiarkan, semakin besar kerugian yang ditimbulkannya.

Mengapa Sulit Menjual atau Membersihkan Akiya?
Meskipun ada jutaan rumah kosong yang tampaknya “siap dipakai” dengan harga murah bahkan gratis, kenyataannya sangat sedikit Akiya yang berhasil dijual atau diambil alih. Ada beberapa alasan mendasar mengapa proses ini jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan orang luar.

Pertama, status kepemilikan sering kali tidak jelas. Banyak Akiya berasal dari warisan keluarga, tapi ahli warisnya tersebar di berbagai kota atau bahkan luar negeri. Ada yang sengaja menghilang, tidak mau dihubungi, atau menolak bertanggung jawab atas pajak properti dan biaya perawatan. Di Jepang, hukum sangat melindungi hak kepemilikan—artinya pemerintah daerah atau tetangga tidak boleh seenaknya membongkar atau merenovasi rumah tanpa persetujuan pemilik resmi, meskipun rumah itu sudah rusak parah dan berbahaya.

Kedua, birokrasi di Jepang cukup ketat terkait properti. Untuk membongkar rumah yang dianggap berbahaya, harus ada proses panjang yang melibatkan pengadilan, pemberitahuan resmi, dan bukti bahwa pemilik benar-benar tidak bisa ditemukan. Proses ini bisa memakan waktu bertahun-tahun. Akibatnya, banyak rumah yang sudah tidak layak huni tetap berdiri begitu saja.

Untuk mengatasi masalah ini, banyak pemerintah kota dan desa di Jepang membuat sistem yang disebut Akiya Bank (Bank Rumah Kosong). Ini adalah database online yang mencantumkan daftar rumah kosong yang siap dijual atau diserahkan dengan harga sangat rendah—mulai dari beberapa ratus ribu yen (sekitar Rp 30–80 juta) hingga benar-benar gratis di beberapa daerah. Namun, meski harganya murah, minat pembeli tetap rendah.

Alasan utama rendahnya minat adalah:
  • Lokasi rumah biasanya sangat terpencil (pedesaan, pegunungan, pulau kecil)
  • Biaya renovasi sangat tinggi (bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah)
  • Infrastruktur buruk (jalan sempit, jauh dari rumah sakit, minim transportasi umum)
  • Risiko bencana alam yang tinggi di banyak wilayah
Jadi meskipun secara teori “bisa dibeli murah”, realitasnya membutuhkan modal besar, komitmen waktu, dan kesiapan hidup di daerah terpencil—syarat yang tidak banyak orang mau penuhi.

Gambar ini memperlihatkan rumah Akiya tua yang dikelilingi hutan dan sawah, dengan akses jalan yang sangat terbatas. Lokasi terisolasi seperti ini menjadi salah satu alasan utama mengapa rumah-rumah murah atau gratis di Akiya Bank jarang diminati.

Kesimpulannya, meskipun ada upaya dari pemerintah melalui Akiya Bank, hambatan hukum, birokrasi, lokasi, dan biaya renovasi membuat sebagian besar rumah kosong tetap tidak tersentuh dan terus bertambah jumlahnya setiap tahun.

Peluang Bagi Orang Asing: Bisa Beli Gratis atau Murah?
Fenomena Akiya sebenarnya membuka pintu lebar bagi siapa saja—termasuk orang asing—untuk memiliki rumah di Jepang dengan harga yang hampir tidak masuk akal di pasar properti global. Hukum Jepang tidak membatasi warga negara asing untuk membeli properti, termasuk Akiya. Bahkan, banyak prefektur dan desa aktif menawarkan rumah dengan harga mulai dari 0 yen (gratis) hingga puluhan juta rupiah saja, lengkap dengan program subsidi renovasi, bantuan pajak, atau insentif pindah ke daerah pedesaan.

Gambar ini menunjukkan contoh rumah Akiya murah yang dijual di situs seperti Koryoya—kondisi terlantar tapi masih kokoh, sering ditawarkan dengan harga sangat rendah di pedesaan Jepang untuk menarik pembeli baru.

Banyak cerita sukses nyata dari ekspatriat (termasuk dari luar Jepang) yang berhasil mengubah Akiya menjadi aset menguntungkan. Mereka merenovasi rumah tua menjadi guest house, Airbnb, kafe kecil, atau tempat tinggal pribadi dengan pemandangan alam indah. Daerah dengan potensi wisata (pegunungan, onsen, sawah terasering, atau dekat pantai) sering jadi pilihan favorit karena bisa menarik turis domestik dan internasional.

Foto rumah Akiya yang dibeli seharga sekitar $6.500 (kurang lebih Rp 100 jutaan) oleh pasangan asing, lalu diubah menjadi guest house yang nyaman—bukti bahwa dengan renovasi tepat, rumah murah bisa jadi bisnis wisata yang menjanjikan.

Beberapa proyek renovasi bahkan menampilkan transformasi dramatis: dari rumah rusak penuh debu dan lumut menjadi ruang modern yang hangat, tetap mempertahankan elemen tradisional seperti tatami, shoji, dan kayu alami. Hasilnya tidak hanya layak huni, tapi juga estetis dan marketable.

Before & after renovasi dapur dan ruang utama Akiya berusia 50 tahun—dari kondisi tua dan usang menjadi ruang terang, fungsional, dan penuh karakter Jepang modern. Banyak pembeli asing berhasil mencapai hasil serupa dengan budget terjangkau.

Tantangan tetap ada (biaya renovasi bisa tinggi, lokasi terpencil, risiko alam), tapi bagi yang punya visi, skill DIY, atau tim renovasi lokal, ini jadi kesempatan langka untuk punya rumah impian atau investasi jangka panjang dengan modal awal minimal. Beberapa orang bahkan berhasil balik modal dalam beberapa tahun melalui sewa wisata atau homestay.

Gambar guest house Akiya hasil renovasi di musim dingin—terlihat hangat dan mengundang dengan teras kayu, lampu hias, dan salju tipis. Contoh nyata bagaimana rumah kosong bisa berubah menjadi tempat menginap yang diminati wisatawan.

Intinya, Akiya bukan hanya “masalah depopulasi Jepang”, tapi juga peluang unik di era ketika harga properti di kota-kota besar dunia semakin tidak terjangkau. Bagi yang berani mengambil risiko dan punya rencana matang, ini bisa jadi petualangan hidup sekaligus investasi yang sangat rewarding.

sumber:

Posting Komentar

0 Komentar